Wujudkan Riset Berdampak Nasional, UWP Gandeng BRIN dalam Sosialisasi RIIM 2026
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Wijaya Putra (LPPM UWP) menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi dan Pendampingan Penyusunan Proposal Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Kompetisi Tahun 2026 secara daring melalui Zoom Meeting pada Selasa, 30 Juni 2026.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Tim Fungsi Layanan II, Direktorat Pendanaan Riset dan Inovasi BRIN, yaitu Nungky Irianti, SE., MA. dan Siti Mutiara Fitry, S.Sos. Keduanya memberikan pemaparan teknis mengenai kebijakan, persyaratan, mekanisme pendanaan, komponen anggaran, indikator kinerja, timeline seleksi, serta kisi-kisi penyusunan proposal RIIM Kompetisi 2026.
Dalam materi yang disampaikan, RIIM Kompetisi dijelaskan sebagai skema pendanaan riset dan inovasi bagi institusi atau lembaga riset, baik pemerintah maupun nonpemerintah, untuk menghasilkan kebaruan, invensi, dan inovasi. Skema ini juga diarahkan untuk meningkatkan kualitas invensi, mendukung evidence-based policy, mendorong hasil riset dengan Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) yang lebih tinggi, serta memperkuat sinergi riset antara BRIN, perguruan tinggi, industri, dan mitra lainnya.
Ketua LPPM UWP, Prof. Dr. Nugroho Mardi Wibowo, M.Si., dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk fasilitasi LPPM kepada para dosen dan peneliti UWP agar memiliki pemahaman yang lebih utuh dalam menyusun proposal RIIM Kompetisi. Menurutnya, dosen tidak cukup hanya memiliki ide riset yang baik, tetapi juga perlu memahami kesesuaian tema, sistematika proposal, kekuatan kebaruan, rekam jejak tim, rancangan luaran, serta ketepatan penyusunan RAB dan dokumen pendukung.
“Melalui kegiatan ini, LPPM UWP ingin memberikan pemahaman yang lebih komprehensif kepada dosen dalam menyiapkan proposal RIIM Kompetisi. Selama ini banyak dosen lebih familiar dengan pendanaan melalui BIMA Kemdiktisaintek, padahal ada alternatif pendanaan riset lain yang sangat strategis, salah satunya melalui skema RIIM Kompetisi BRIN. Karena itu, kegiatan ini penting agar dosen UWP mampu memperluas akses pendanaan riset, meningkatkan kualitas proposal, serta menyiapkan luaran yang lebih kompetitif dan berdampak,” ujar Prof. Nugroho.
Ia juga menekankan bahwa pendanaan RIIM menuntut kesiapan substansi riset yang kuat. Proposal tidak hanya harus memenuhi format administratif, tetapi juga harus menunjukkan novelty, urgensi, state of the art, metodologi yang jelas, roadmap riset, serta output yang realistis dan terukur. Hal ini sejalan dengan kisi-kisi penilaian substantif RIIM Kompetisi yang memuat komponen kualitas ilmiah, rencana riset, output, tim periset, serta kelayakan anggaran.
Sementara itu, Rektor UWP, Dr. Budi Endarto, M.Hum., dalam sambutan sekaligus pembukaannya memberikan motivasi kepada para dosen agar lebih aktif menangkap peluang pendanaan riset nasional. Rektor menegaskan bahwa dosen perlu menjadikan kegiatan penelitian sebagai bagian penting dari pengembangan akademik, kontribusi keilmuan, dan penguatan reputasi institusi.
"UWP memiliki visi kuat sebagai Kampus Sociopreneur, di mana setiap riset yang lahir tidak boleh berhenti sebagai dokumen akademik semata, tetapi harus menjelma menjadi solusi nyata bagi masyarakat," tegas Dr. Budi Endarto.
"UWP memberikan dorongan penuh kepada para dosen untuk terus meningkatkan kapasitas riset. Proposal RIIM Kompetisi ini adalah peluang emas untuk mewujudkan riset yang tidak hanya unggul secara ilmiah, tetapi juga memiliki dampak sosial yang luas. Saya berharap para dosen tidak hanya hadir sebagai peserta sosialisasi, tetapi juga menindaklanjutinya dengan menyusun proposal yang matang, kolaboratif, dan sesuai dengan kebutuhan bangsa,” tuturnya.
Rektor juga menyampaikan bahwa peningkatan jumlah dan kualitas proposal riset akan berdampak langsung pada penguatan budaya akademik di lingkungan UWP. Menurutnya, dosen harus berani membangun jejaring, memperkuat rekam jejak publikasi dan kekayaan intelektual, serta mengembangkan riset yang tidak berhenti pada dokumen akademik, tetapi juga memberi manfaat bagi masyarakat, dunia usaha, dan pengambilan kebijakan.
Dalam sesi pemaparan, narasumber menjelaskan sejumlah hal penting yang perlu diperhatikan calon pengusul, antara lain persyaratan ketua dan anggota tim periset, mekanisme pendanaan maksimal tiga periode, kewajiban luaran berupa publikasi ilmiah bereputasi atau kekayaan intelektual, serta komposisi anggaran yang terdiri atas biaya langsung personel, biaya langsung nonpersonel, dan biaya tidak langsung. Materi juga menekankan pentingnya menghindari kesalahan umum, seperti topik yang tidak sesuai, kualifikasi tim yang belum memenuhi syarat, dokumen yang tidak lengkap, novelty yang belum jelas, RAB yang tidak rinci, serta pengunggahan proposal yang mendekati batas akhir.
Di akhir kegiatan, Ketua LPPM UWP, Prof. Nugroho, menegaskan komitmen UWP untuk terus mengawal proses ini. "Sebagai Kampus Sociopreneur, UWP berkomitmen menjadikan kegiatan riset sebagai lokomotif perubahan. Kami ingin setiap proposal yang diajukan tidak hanya berorientasi pada publikasi, tetapi juga memiliki dampak nyata (impactful) terhadap pemecahan persoalan strategis nasional, mulai dari ketahanan pangan, energi terbarukan, hingga pemberdayaan ekonomi masyarakat berbasis kearifan lokal. Inilah wujud nyata UWP dalam membangun Indonesia melalui inovasi," pungkasnya.
Melalui kegiatan ini, LPPM UWP berharap para dosen dapat mempersiapkan proposal RIIM Kompetisi 2026 secara lebih terarah, baik dari sisi substansi, administrasi, luaran, maupun rencana anggaran. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari komitmen UWP dalam mendorong peningkatan produktivitas riset dosen, memperluas jejaring kolaborasi, serta memperkuat kontribusi perguruan tinggi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, invensi, inovasi, dan pemecahan persoalan strategis nasional, sejalan dengan semangat UWP sebagai kampus yang sociopreneur dan impactful.