• Berita

Keren! UWP Surabaya dan Universitas Putra Malaysia Jalin Kerja Sama Tingkatkan Kualitas Pendidikan

  • 15 Aug 2022
  • Berita Kampus

Universitas Wijaya Putra (UWP) Surabaya mengadakan kerja sama dan seminar internasional secara offline. Dalam acara ini, UWP menggandeng  Universiti Putra Malaysia (UPM) untuk terus berkembang dalam dunia pendidikan.

Kerja sama ini diwujudkan dalam nota kesepahaman dan penandatanganan antara Rektor Universitas Wijaya Putra dengan Dekan Sekolah Ekonomi dan Bisnis Universitas Putra Malaysia. Kesepahaman ini bertujuan untuk memajukan pendidikan di kedua kampus. Bahkan kerja sama ini bisa berlanjut ke pertukaran mahasiswa hingga riset.

“Saya berharap kerja sama ini bisa membangun pendidikan menjadi lebih baik,” kata Rektor Universitas Wijaya Putra (UWP) Surabaya, Dr. Budi Endarto, SH., M.Hum setelah acara seminar di Hall Universitas Wijaya Putra.

Budi mengatakan, setelah penandatanaganan kerja sama, pihaknya bersama kampus dari Malaysia ini juga menggelar seminar internasional. Seminar ini bertajuk ‘Assesing The International Diversification, Activities Of Listed Firms : Evidence From Developing Market’ dengan dihadiri 300 peserta.

Dalam acara ini yang menjadi speaker Assoc. Professor Dr. Bani Ariffin Amin Noordin, Dekan Sekolah Ekonomi & Bisnis Universitas Putra Malaysia.

Dr. Bani mengatakan, sesuai dengan tema seminar mengangkat mengenai kondisi suatu perusahaan dari negara tertentu bisa listing (go public) ke beberapa pasar modal negara lain, itulah yang disebut dengan diversifikasi internasional. “Perusahaan itu bisa go public ke pasar modal negara lain. Perekembanagn ini disebut diversifikasi,” ujarnya.

Sementara, Dr. Nugroho Mardi Wibowo, S.E., M.Si Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat sebagai pembicara kedua membahas mengenai ‘Sustainable Entrepreneurship UMKM Batik during Covid-19 Pandemic’.  Menurutnya, UMKM Batik masih berorientasi pada faktor ekonomi, omset dan profit.

“Aspek lingkungan dan sosial belum menjadi perhatian, buktinya sebagian besar UMKM Batik belum memiliki IPAL dan produknya belum ramah lingkungan,” katanya.

Sementara itu, pasar internasional terutama pada negara maju terjadi perubahan preferensi konsumen yang semula tidak memperhatikan latar belakang proses produksi suatu produk, saat ini mulai mensyaratkan adanya standarisasi berbasis ramah lingkungan. “Perubahan inilah yang peprlu ditangkap, kemudian dilakukan pengembangan,” ujar Nugroho.